Pagi itu, halaman depan Orenji High School dipenuhi oleh siswa-siswi baru yang sudah tak sabar ingin memulai kisah hidup barunya. Tak terkecuali seorang gadis manis berambut hitam sebahu yang bernama Jung Jeanne, atau biasanya akrab disapa Jea. Jeanne berjalan dari halte di depan sekolah menuju gedung sekolah tersebut sambil bersenandung, mengikuti irama lagu yang terdengar dari sebuah earphone yang terpasang di kedua telinganya.
✨ X-3 ✨
Tulisan tersebut terpampang dengan jelas di atas pintu salah satu ruangan kelas. Jeanne yang sebelumnya sudah diberitahu bahwa ia adalah salah satu siswa yang akan menempati kelas tersebut, segera melangkahkan kakinya kedalam.
“Jeanne!” Seseorang yang sudah lebih dulu tiba berteriak menyambut Jeanne dengan semangat.
“Yedam!! Wah ternyata gw sekelas sama lo,” sambil melepas earphone-nya, Jeanne pun menghampiri sahabatnya yang bernama Yedam itu dengan tak kalah semangatnya.
“Wkwkwk emang soulmate sih kita,” mereka ber-tos ria, “bagus deh, gw punya contekan PR hehehe.”
Jeanne menjitak kepala Yedam, “nggak ada ya!”
“Eh btw, lo inget temen-temen SMP gw yang waktu itu gak?” Tanya Yedam, “mereka katanya masuk kelas ini juga lho,” lanjutnya.
“Ha? Yang mana? Gw gak inget namanya, tapi kayaknya bakal inget sih kalau liat mukanya…” Jeanne mencoba mengingat-ingat.
“Yah pokoknya nanti lo liat aja deh, 😁”
Tiba-tiba seorang perempuan menghampiri Jeanne dan Yedam dengan langkahnya yang bersemangat dan senyuman yang terpancar dari wajahnya.
“PAGIIII! 😆”
“WOY! Astaga kaget gw Ra,” pundak Yedam sedikit tersentak karena kaget. Perempuan itu hanya terkekeh.
“Hai, gw Nara,” ia memperkenalkan dirinya pada Jeanne dengan mengulurkan tangannya.
“Salam kenal, Nara. Gw Jeanne,“ Jeanne membalas uluran tangannya dan tersenyum.
“Jung Jeanne? Lo biasanya dipanggil Jea kan,” kata Nara.
“Loh? Tahu darimana?” Tanya Jeanne bingung.
“Eysss tahu lah! Nih si Yedam kalau dimodusin senior cewek di tempat les pasti bilang gini, “maaf kak, saya udah punya pacar” sambil nunjukin foto lo yang dia jadiin wallpaper HP nya,” jawab Nara sambil memeragakan cara bicara Yedam, “karena gw penasaran, akhirnya gw nanya ke dia. Trus dia ceritain lo ke gw deh,” tambahnya.
“Astaga.. sampai kapan gw dimanfaatin terus dalam situasi kayak gitu sama lo?” Jeanne menatap jengah pada Yedam.
“Hehehe, sebagai sahabat kan harus saling membantu,” kata Yedam sambil merangkul Jeanne.
Nara yang melihat itu menatap Yedam heran, “yakin lo sahabatan doang sama dia?” Tanyanya.
“Iyalah, kalau dipacarin nggak seru dia mah, kerjaannya belajar terus! Udah gitu orangnya songong, pelit lagi. Masa waktu minta tolong dia ngerjain PR MTK gw, langsung dia tolak mentah-mentah,” ejek Yedam.
“Ish nggak juga ya! Lagian itu PR kan tanggung jawab lo!” Jeanne memukul lengan Yedam yang berakhir mereka berdua saling pukul dan saling ejek.
Nara hanya tertawa melihat interaksi sepasang sahabat itu. Obrolan mereka mengalir tanpa ada rasa canggung, entah mengapa. Mereka hanyut dalam obrolan sampai-sampai tak menyadari bahwa suasana di dalam kelas menjadi semakin berisik. Tak terasa, jam dinding sudah menunjukkan pukul 08.00 yang berarti bel masuk kelas akan terdengar sebentar lagi.
🔔 kriiiiing…
Benar saja, bel masuk kelas langsung terdengar.
“Eh, sebangku sama gw yuk Jea,” Nara meraih lengan kiri Jeanne, bermaksud untuk mengajaknya ke tempat duduk sebelah bangku Yedam, di barisan kedua dekat jendela—yang sudah diincarnya sejak memasuki kelas ini.
“Ayo~“
Mendengar Jeanne yang menyambut ajakannya, Nara dan Jeanne melangkah ke tempat duduk yang dimaksud. Namun, baru saja mereka hendak duduk, seseorang memegang erat tangan kanan Jeanne.
“Dia duduk sama gw,” katanya dengan tegas. Belum sempat protes, Jeanne sudah ditarik olehnya ke bangku paling belakang, di barisan ketiga.
“Astaga temen gw!” Nara berteriak tak terima.
“Sssstttt. Nggak usah marah-marah, cantik. Bangku sebelah kamu nggak akan kosong karena bakal gw isi. Atau mau gw isi hatinya sekalian? 😄” Seseorang yang entah sejak kapan ada di sebelah Nara berkata. Ia pun menarik bangku untuk Nara, bermaksud mempersilahkannya duduk.
“Hah lo siapa lagi sih! Sokab banget,”
“Serius lo belum kenal gw? Gw pangeran lo, Kim Doyoung,” ia mengulurkan tangannya.
“Mana ada pangeran yang bentukannya kayak lo.”
Nara bermaksud untuk beranjak dari bangku tersebut. Sayangnya, Dobby menahan tangannya sehingga ia tidak bisa pergi kemana-mana. Yedam yang melihat semua itu hanya menggelengkan kepalanya dan meghela napas. Ia tak bisa menjalankan niatnya untuk menyelamatkan Nara dari situasi itu karena semua kursi sudah dipenuhi oleh siswa lain.
Memang harus sabar, sih, temenan sama seseorang yang loveable, gampang disukai sama banyak orang kayak Nara. Karena pasti kamu pun akan menghadapi macam-macam orang yang mau pdkt.
Sampai seluruh percakapan di kelas itu harus dihentikan karena interupsi seorang pria bertubuh jangkung yang memasuki ruangan kelas.
“Selamat pagi semuanyaaa!” Sapa pria tersebut.
“Pagii~”
Pria tersebut lalu memperkenalkan dirinya sebagai wali kelas X-3. Ia menuliskan namanya di papan tulis lengkap dengan nama akun Instagram-nya,
Johnny Seo
(@johnnyjsuh)
“Nah, salam kenal ya anak-anak. Bapak adalah wali kelas kalian… Duh, saya nggak se tua itu sih sebenernya hehehe, tapi yasudahlah karena di kelas, saya jadi bapak. Kalau di luar saya bestie aja ya, wkwkwk,” seisi kelas tertawa senang karena wali kelas mereka terlihat ramah dan menyenangkan, "nama saya Seo Johnny. Ini ada Instagram saya juga, boleh banget di-follow biar kita semakin akrab, wkwkwk," lanjutnya.
Perkenalan berlangsung dengan menyenangkan dan tidak canggung karena Pak Johnny yang ramah sangat pandai untuk mencairkan suasana. Sampai akhirnya ia meminta seluruh siswa untuk memperkenalkan dirinya masing-masing, mulai dari bangku paling depan.
“Santai aja kali, gak usah main tarik-tarik segala! 🙄” Protes Jeanne setelah ia terpaksa duduk di belakang dengan siswa yang belum ia kenal. Tentunya dengan suara yang pelan agar tidak mengganggu Pak Johnny dan siswa lain yang sedang berkenalan.
Siswa disebelahnya agak mencondongkan badannya ke arah Jeanne, “kalau gak gercep, nanti lo keburu diambil orang,” katanya tepat di telinga Jeanne.
“Dih?” Jeanne menjauhkan kepalanya, lalu kembali memperhatikan siswa lain yang sedang memperkenalkan dirinya.
“Halo semuanya, nama gw Kim Doyoung. Cukup dipanggil Dobby aja,”
Ia tersenyum ramah, melakukan eye contact dengan Pak Johnny dan seluruh siswa, lalu beralih ke Nara dan Jeanne, “tapi khusus dua princess di samping dan di belakang gw ini, boleh banget kalau mau manggil gw sayang,” ia mengedipkan sebelah matanya kepada dua perempuan yang memandangnya aneh. Bahkan Nara sampai menunjukkan gestur pura-pura muntah.
“Waduhhhh bisa aja kamu ya,” pak Johnny menggelengkan kepalanya ketika ada salah satu siswa yang berkenalan dengan kalimat seperti itu. Siswa yang lain hanya tertawa, Dobby sudah memiliki branding “sang buaya kelas”. Perkenalan terus berlanjut. Seluruh siswa dan siswi memperkenalkan dirinya dengan cara masing-masing yang sangat merepresentasikan kepribadian mereka.
Sementara itu, karena melihat Jeanne yang hanya diam saja, siswa yang duduk di sebelahnya berusaha untuk memulai obrolan dengan bertanya, “lo nggak inget gw?”
“Hah? Emang pernah ketemu ya sebelumnya?” Jeanne menatapnya bingung, lalu mencoba mengingat-ingat.
“Wah.. parah sih wajah ganteng gw nggak lo inget,” katanya dengan sedikit rasa kecewa.
“Eh sori.. tapi gw beneran nggak inget hehe..”
“Mau gw bikin lo inget? 😏” Ia menaikkan sebelah alisnya dengan jahil dan sedikit mendekat ke Jeanne.
“Mas dan mbak nya yang di belakang apa nggak mau memperkenalkan diri?” Pak Johnny menginterupsi Jeanne dan teman di sebelahnya.
“Ah maaf pak!” Sontak Jeanne berdiri, seisi kelas langsung memusatkan perhatian padanya, “saya Jung Jeanne, biasa disapa Jeanne atau Jea. Salam kenal semua~” Jeanne memperkenalkan dirinya, dan memberikan senyuman manis kepada semua orang di kelas tersebut. Melihat itu, seseorang di sebelahnya pun ikut tersenyum.
“Halo, gw Watanabe Haruto. Panggil aja Ruto 😊” ia memperkenalkan diri.
Kayak pernah denger namanya... batin Jeanne.
Karena penasaran, Jeanne akhirnya bertanya pada Ruto setelah ia selesai memperkenalkan dirinya, "lo tuh, anak SMP Jikjin bukan sih?"
"Hmm.. iya bukan yaaa?"
"Jawab aja elah..."
"Cie... lo mulai penasaran sama gw ya?" Kata Ruto sambil tersenyum jahil.
"Yaudah gajadi," Jeanne memalingkan wajahnya.
"Wkwkwkwk iyaa Jeanne, gw anak SMP Jikjin. Temennya Yedam. Kita pernah ketemu pas lo pulang bareng Yedam kalau lo lupa," katanya sambil menepuk pundak Jeanne, bermaksud agar Jeanne tidak memalingkan wajahnya lagi.
"Pantesann! Sori ya Ru gw sempet gak ngenalin lo," kata Jeanne.
"Hiks sedih banget gw. Padahal sejak gw masuk ke kelas ini gw liat lo, gw langsung inget loh."
"Hehe, kok bisa sih?"
"Iyalah. Habisnya lo tuh cantik banget, jadi susah kan gw lupainnya,"
—
update lagi dong thor 😍
ReplyDeletehi reader! sabar yaa nunggunya :D
Delete