#1 Awal dari Semua


Jeanne berdiri di tengah-tengah keramaian lapangan sekolah Orenji High School. Ia memperhatikan sekitar dengan seksama, gedung sekolah bergaya modernhalaman sekolah yang dipenuhi oleh tanaman, anggota OSIS yang sibuk kesana-kemari sambil berbicara menggunakan earphone, dan barisan siswa-siswi di lapangan yang asyik dengan kegiatannya masing-masing—berkenalan dan melihat-lihat sekitar, ada juga yang asyik sendiri dengan ponselnya.

Seorang perempuan yang berdiri tepat di depan Jeanne mengeluarkan ponselnya dari saku rok seragamnya. Ia tidak menyadari kalau airpods miliknya tak sengaja terjatuh. Jeanne yang melihat itu mengambil airpods tersebut dan berniat untuk mengembalikannya.

 

“Hei…” Jeanne menepuk pundak perempuan itu. 


Perempuan didepannya menoleh, di dada kiri kemeja seragamnya terpampang jelas sebuah pin persegi panjang bertuliskan ‘Kang Nara’.


“Kayaknya ini punya lo. Tadi jatuh pas lo keluarin HP,” katanya sambil menunjukkan airpods berwarna putih.

“Oh iya, ini punya gue. Makasih banget ya!” Kata perempuan itu sambil mengambil airpods miliknya dari tangan Jeanne.

Anyways, gue Nara,” ia mengulurkan tangannya, “lo?”

 “Jung Jeanne. Panggil aja Jea,” katanya setelah ia bersalaman dengan Nara.

 

Belum sempat Jeanne membuka topik obrolan dengan Nara, seseorang yang memperkenalkan dirinya sebagai ketua OSIS mulai berbicara di depan lapangan. Terpaksa, Jeanne dan Nara harus menunda obrolannya dan memperhatikan terlebih dahulu. Ia menyebutkan pembagian gugus untuk siswa-siswi baru sekaligus pembimbing gugusnya masing-masing. Satu persatu nama disebutkan, hingga akhirnya nama Jeanne dan Nara.

 

“Jeanne! Kita satu gugus!” Kata Nara girang.

“Iya! Ayo kesana.” Jeanne dan Nara bergabung ke barisan yang ditunjukkan oleh ketua OSIS.

 

Mereka bergabung ke barisan dengan obrolan yang terus berlanjut. Topik-topik yang mereka bahas seolah tak ada habisnya. Mulai dari selera musik yang sama, series Netflix favorit, sampai makanan-makanan enak yang pernah mereka coba. Namun obrolan mereka harus terhenti lagi karena pembimbing gugus mereka berbicara.

 

“Gugus J boleh ikutin saya, ya.”

 

Seorang siswa ber-name tag ‘­Choi Hyunsuk’ memberikan instruksi kepada adik-adik barunya. Dengan almamater hitam berlogo OSIS di sebelah kiri dadanya, ia berdiri paling depan. Menggiring sekitar 20 orang siswa-siswi baru ke aula untuk melakukan kegiatan MPLS.

  

Bruk!

“Ah!” Jeanne tak sengaja menabrak tubuh Nara yang berada di depannya karena seseorang menabraknya dari belakang. Jeanne dan Nara menoleh.

 “Pelan-pelan bisa nggak sih?!” Protes Nara kepada sekelompok siswa yang berbaris di belakang Jeanne.

 “Eh sori-sori, ini yang di belakang gue pada rusuh,” kata seorang siswa ber-name tag ‘Bang Yedam’ sambil menunjuk teman-teman di belakangnya.

 “Loh? Gue dari diem tadi kan,” kata salah satu temannya, membuat yang lain bingung dengan ucapannya, “eh maksudnya, gue dari tadi kan diem.”

 “Hooo… iya gimana sih lo nuduh-nuduh aja, Dam,” kata temannya yang lain, “maaf ya, cantik,” ia berkata pada Jeanne dan Nara. Yang ia dapatkan hanya anggukan dari Jeanne dan Nara yang mengacuhkannya. 

Jeanne akhirnya berkenalan dengan tiga siswa itu. Setelahnya, mereka berjalan mengikuti barisan yang diarahkan menuju salah satu ruangan kelas oleh Hyunsuk.


Malam harinya, Yedam menelepon Jeanne. Yedam bertanya tentang tugas yang diberikan oleh Hyunsuk, dan bermaksud untuk mencari referensi dari Jeanne. Entahlah, apakah dia hanya ingin mencari referensi tugas atau ada maksud lain dibaliknya.


Berarti yang isi PPT nya tuh biodata, alasan masuk Orenji High School dan kelebihan kekurangan kita?

“Iya, Dam. Buat besok itu aja.”

Lo udah ngerjain?

“Udah,”

Mau lihat dong, boleh nggak?

Sure. Bentar ya, gue kirimin file nya.”

Okay..

"Udah gue kirimin, ya. Kata kak Hyunsuk itu udah bener kok."

Makasih banyak, Jeanne.

"Sama-sama. Udah dulu ya."


...


Pagi ini, Nara, Jeanne dan Yedam berjalan beriringan menuju lapangan untuk melihat demo ekskul—kegiatan untuk mempromosikan semua kegaitan-kegiatan ekstrakurikuler dan merekrut anggota baru. 

Mereka mengambil posisi duduk di paling depan, paling dekat dengan lapangan karena Mashiho ingin melihat demo ekskul dengan jelas. Mashiho, Yedam dan Dobby menunggu dengan antusias, sedangkan Nara dan Jeanne yang tidak tertarik lebih memilih untuk mengobrol sambil memakan cemilan yang mereka bawa.

Demo ekskul yang berlangsung di lapangan dikhususkan untuk klub-klub olahraga yang ada di Orenji High School. Mulai dari klub voli, bulutangkis, futsal, hingga basket. Klub basket yang terakhir tampil mendapat sambutan paling meriah dari siswa-siswi baru. Selain karena memiliki segudang prestasi, tapi juga karena seorang pemain ber nomor punggung 99 bernama Mark Lee, yang katanya juga adalah seorang atlet sekaligus kapten tim tersebut.


"Ada yang mau coba ke depan?" Tanya Mark setelah menyelesaikan penampilannya.


Banyak siswa yang dengan antusias beranjak dari pinggir lapangan, menyerbu ke tengah lapangan.


“Cio lo nggak maju?” Tanya Yedam.

“Nggak hehe, gue mau disini aja sama Nara,” Cio tersenyum.

“Yeuu modus lo! Sana kedepan, Nara biar sama gue,” Kata Dobby. 

“Eh justru gue harus melindungi Nara dari buaya macam lo, ya!”

“Beris—“ ucapan Nara terpotong karena lapangan mulai berisik karena teriakan dari siswi-siswi di lapangan ketika seorang siswa maju ke depan.


“HARUTOOO!!!”


Ia menjadi siswa terakhir yang maju ke depan. Pertandingan pun dimulai kembali dengan tiupan peluit dari salah satu anggota klub basket. Suasana semakin meriah ketika Haruto menangkap operan bola dari Mark dan men-dribble-nya. Semua orang berteriak untuk menyemangati Haruto.

Bola terus berpindah dari tangan Haruto lalu ke Mark, lalu ke Haruto dan akhirnya kembali ke Mark. Mark menggiring bola dari ujung ke ujung lapangan, menembus pertahanan tim lawan. Sesampainya dia di ujung lapangan, ia dikepung oleh dua orang dari tim lawan. Mark melambaikan tangannya ke Haruto, memberi tanda bahwa ia akan melempar bola kearahnya dan memberi instruksi agar Haruto menangkapnya.

Sayangnya, bola yang dilempar Mark tidak berhasil ditangkap oleh Haruto. Bola itu memantul tepat di depan Jeanne dan hampir mengenai wajahnya.

Jeanne yang sedang asyik mengobrol bersama Nara tidak menyadarinya. Tapi ia beruntung, karena Yedam yang berada di sebelahnya dengan sigap mendorong bola itu menjauh agar tidak mengenai wajah Jeanne. 


“Astaga!” Kaget Jeanne ketika tangan Yedam yang mendorong bola berada di tepat depan wajahnya.

“Eh lo gapapa kan?” Tanya Yedam.

“Gapapa kok, Dam. Gue kaget aja tadi.”

"Makannya jangan keasyikan ngobrol," Yedam menjitak jidat Jeanne.

"Yaudah sih,"


Haruto yang berdiri di depan Jeanne pun tidak menyangka kalau bola akan meleset dari tangkapannya. Ia berbalik menghampiri Jeanne dan berlutut untuk menyejajarkan tubuhnya dengan Jeanne yang sedang duduk. 

"Sori ya..." kata Haruto segera setelah ia berlutut di depan Jeanne.

"Iya," Jeanne mengangguk. Ia menatap Haruto tanpa berkedip seolah sedang terhipnotis. 


Haruto tersenyum kecil dan kembali berdiri, melanjutkan permainan. Ia telah berhasil mengambil seluruh atensi Jeanne. 


"Biasa aja kali ngeliatinnya," Nara menyenggol lengan Jeanne.

"H-hah?" Jeanne sedikit terkejut, "emang gue ngeliatin apa?" Ia mengalihkan pandangannya ke segala arah.


Nara tertawa kecil, “mau gue kenalin?”

Jeanne menggeleng dan semakin mengalihkan pandangannya. Ia berusaha keras menahan senyuman yang memaksa muncul di wajahnya.



Selesai demo ekskul…


“HARUTO!!”

Haruto yang hendak berjalan ke kelas bersama teman-temannya menghentikan langkahnya karena merasa terpanggil.

“TEMEN GUE MAU KENALAN!” Teriak Nara dari ujung lapangan sambil menunjuk Jeanne yang berdiri di sebelahnya. 

Jeanne yang mendengarkan itu kaget. “HEH!” Ia melotot pada Nara.


“Kalian duluan aja,” kata Haruto pada teman-temannya.

Melihat Haruto yang berjalan mendekat, Jeanne memalingkan wajahnya. Rasanya ia ingin kabur saja untuk menghindar, tapi itu tidak sopan.

“Ini temen lo?” Tanya Haruto, menatap mata Jeanne lekat-lekat.

Nara mengangguk. Ia mendorong pelan bahu Jeanne, agar Jeanne memperkenalkan dirinya.


Haruto yang melihat Jeanne hanya menatapnya dan tak kunjung berbicara pun mengulurkan tangannya, 

“Salam kenal, Jeanne. Gue Haruto.”

Comments

  1. AKHIRNYAA 😭😭 bagus banget loh thor ceritanya 😍 makasih ya udh milih lanjutin cerita ini walaupun harus diulang dari awal, dan makasih juga author ngga nyerah sama cerita ini 😭🙏🏻 semangat thor !!

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

draft - #6 liburan

what if #1