#2 Haruto dan Jus Jambu

 Tidak terasa, kegiatan MPLS telah selesai. Jeanne harus berpisah dengan beberapa teman se-gugus nya karena penempatan jurusan IPA dan IPS. Beruntung, ia dan Nara memilih jurusan yang sama dan ternyata mereka berdua ditempatkan di satu kelas yang sama juga, X MIPA 6.

Dengan seragam sekolah barunya, Jeanne berjalan ke halte bus yang paling dekat dengan rumahnya. Ia sampai di halte bersamaan dengan bus rute 012, yang melewati sekolahnya. 15 menit di dalam bus Jeanne habiskan dengan membaca novel barunya, The Secret History of Us. Ia memasang earphone di sebelah telinganya dan mulai larut dalam bacaannya.

Kegiatannya terinterupsi oleh pemberitahuan dalam bus yang mengatakan bahwa halte tempat pemberhentian Jeanne berjarak 100 meter lagi. Dengan earphone yang masih terpasang di telinganya dan bukunya yang enggan ia masukkan ke dalam tas, Jeanne bersiap untuk turun. Ia berdiri di dekat pintu keluar bus.


Jeanne berjalan kaki dari halte depan sekolahnya menuju gedung B, tempat dimana semua ruang kelas X berada. Koridor sudah cukup ramai, banyak siswa lain yang keluar-masuk kelas dan nongkrong di depan kelas. Jeanne berjalan terus di tengah-tengah keramaian itu, ia tak kunjung menemukan ruangan kelasnya.


"Jea!" Panggil Nara yang sedang berdiri di depan pintu salah satu ruangan kelas.

Jeanne mengedarkan pandangannya, mencari-cari sumber suara. 

"Kelas kita disini!" Teriaknya. 


Jeanne menghampiri Nara dan masuk ke ruangan kelas yang tidak terlalu luas, tetapi juga tidak terlalu sempit. Didalamnya ada 20 kursi dan meja siswa beserta satu meja guru. Di bagian belakang kelas terdapat loker-loker untuk menyimpan barang siswa dan ada space yang lumayan luas untuk tidur, makan, bersantai, ataupun melakukan kegiatan lainnya.

Jeanne mengambil tempat duduk di sebelah Nara. Tak lama kemudian, seorang siswa yang baru saja datang menghampiri bangku di sebelah Jeanne dan Nara.


"Sebelah sini kosong?" Tanyanya pada siswa lain yang duduk di bangku tersebut. Setelah ia mengetahui bahwa kursi tersebut kosong, ia duduk dan menyimpan tasnya di bawah meja. Lalu ia mengeluarkan ponselnya, tak berniat untuk memulai obrolan dengan siapapun.


Nara menghentikan obrolannya dengan Jeanne ketika melihat siapa siswa yang baru saja duduk, "Haruto!" panggilnya.

"Hey, Nar!" Haruto menoleh dan tersenyum.


“Eh, halo Jeanne!" Ekspresi wajahnya berubah ketika mengetahui bahwa yang duduk si sebelahnya adalah Jeanne. 

"Hai,” Jeanne tersenyum. 

"Kebetulan banget kita sekelas ya Ru," kata Nara, "ekhm," ia melirik Jeanne.

Haruto tersenyum dan mengangguk. Suasana hatinya menjadi lebih baik setelah mengetahui bahwa setahun kedepan ia bisa melihat perempuan di sebelahnya dari dekat, hampir setiap hari. Membayangkannya pun membuatnya senyum-senyum sendiri seperti sedang tidak waras.


Jeanne memandang Haruto sekilas, lalu mengalihkan pandangannya ke depan setelah ia dan Haruto beradu tatap. Ia beralih mengamati siswa di depannya, terasa sangat familar. Satu nama terlintas di benaknya. Jeanne pun mencoba untuk menyapa siswa tersebut.

"Yedam?" panggil Jeanne sambil menepuk punggungnya karena siswa tersebut sedang menggunakan headphone, "ternyata lo di kelas ini juga?" Tanyanya.

"Dihhh baru nyadar lo?" Yedam menoleh, "dari tadi gue duduk di depan lo, Jea."

"Ya maaf kan nggak kelihatan."

Yedam menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya, "gue se-bersinar ini masih nggak kelihatan?"

Jeanne menutar bola matanya malas.


Bel berbunyi tak lama kemudian. Jeanne memasukkan novel yang sedari tadi ia letakkan di atas meja ke dalam tasnya. Novel di atas mejanya berganti dengan modul fisika.

"Huft... kok hari pertama langsung fisika, sih? Pagi-pagi pula..." ucap Nara lemas.

Jeanne tertawa, "semangat, Nar," katanya. Sepertinya memang hanya Jeanne yang antusias menyambut jam pelajaran pertama di pagi hari ini. 


...



“Gue nasi goreng, deh," kata Jeanne. 

Setelah setengah hari belajar, sekarang saatnya mengisi ulang energi dengan makan siang. Jeanne dan Nara memilih untuk makan di kantin. Mereka menyusuri seisi kantin, mengamati makanan apa saja yang tersedia dan mempertimbangkan beberapa hal sebelum memilih menu makan siang hari ini—jenis makanan, harga, dan panjang antrian. 

Jeanne dan Nara berpencar. Jeanne melangkahkan kakinya menuju lapak nasi goreng Mang Taeil, sedangkan Nara dengan antusiasnya bergabung dalam antrian sate padang yang lumayan panjang.

Setelah mendapatkan makanannya ditambah segelas jus stroberi, Jeanne mencari tempat duduk lebih dulu karena Nara masih mengantri, memperjuangkan sate padangnya. Jeanne yang kelaparan langsung menyantap nasi gorengnya dengan lahap. 


"Boleh gue duduk di sini?" 

Jeanne mendongak, melihat siapa yang mengajaknya berbicara. Ia berhenti mengunyah makanan dan segera menelannya. Sendok yang awalnya ia pegang dilepas dari tangannya dan mendarat di atas piring yang berisi seporsi nasi goreng mang Taeil itu. 

Setelah menyadari siapa yang mengajaknya berbicara, ia memalingkan wajah sambil mengusap mulutnya, memastikan tidak ada sebutir nasi pun yang menempel. 

Tanpa menunggu apapun, Haruto duduk tepat di sebelah Jeanne dengan sepiring nasi goreng di tangan kanannya dan segelas jus jambu di tangan kirinya. 

"Selamat makan, Jeanne,” katanya.

Ia makan dengan tenang tanpa tergesa-gesa. Sementara itu Jeanne yang merasa canggung berusaha keras untuk fokus menghabiskan makanannya dan mengatur detak jantung-nya agar normal kembali.


“CIEEE!!!” teriak Nara yang kini berdiri di belakang Jeanne dan Ruto dengan sepiring sate padang-nya. 

"Uhuk uhuk!" Karena kaget, Jeanne tersedak. Ia berusaha menelan sesendok nasi yang menyangkut di tenggorokannya.

"EH JEA SORII!!" Mendapat reaksi Jeanne yang di luar dugaan, Nara beranjak ke depan Jeanne dan menyimpan makanannya di atas meja, "nih minum dulu," ia mengambil segelas jus stroberi milik Jeanne dan menyodorkannya. Tak butuh waktu lama, gelas itu berpindah ke tangan Jeanne. Ia pun segera meneguknya. Setelah itu, Nara duduk di depan Jeanne. 

Yedam yang sedari tadi bertemu Nara dan berujung memperjuangkan sate padang bersamanya pun ikut duduk di sebelahnya.  


Kok rasanya beda? pikir Jeanne setelah meneguk setengah gelas jus stroberi-nya. 


"Jeanne," panggil Haruto, Jeanne menoleh.

"Kayaknya lo minum jus jambu punya gue..."



  “Ah, gue malu banget...” Jeanne merutuki dirinya sendiri karena kejadian di kantin tadi siang. Ia tak sengaja menghabiskan setengah gelas jus jambu milik Haruto.

"Lo kenapa malah ngasih minumannya dia, sih, Narr!" Jeanne frustasi.

"Ya mana gue tahu itu punya Haruto, kalian naruhnya sebelahan gitu," kata Nara acuh, "eh tapi lo sebenernya seneng kan... bisa segelas sama dia..." ia tersenyum mengejek.

"Nggak!"

Nara tertawa. Apa yang Jeanne ucapkan berbanding terbalik dengan tingkah lakunya. Nara dan Jeanne berjalan keluar kelas setelah membereskan barang-barangnya. 


"Gue duluan ya, dadahh~" Nara melambaikan tangannya ketika melihat mobil jemputannya sudah tiba di depan gerbang sekolah. 

"Dahh~" Jeanne balas melambaikan tangannya. 


Setelah mobil Nara lepas dari pandangannya, Jeanne berjalan menuju halte untuk menunggu bus yang akan mengantarnya pulang. Baru beberapa langkah, Jeanne merasakan ada seseorang yang ikut berjalan di sampingnya. Dengan perasaan ragu, Jeanne menoleh.


"Halo," kata orang itu.

"Eh?!" Jeanne melotot, kaget.

"Wkwkwk. Lo ternyata kagetan ya orangnya," Haruto tertawa kecil, ia menoel hidung Jeanne.

"Ngapain sih," Jeanne memalingkan wajahnya yang memaksa untuk tersenyum. Ia berusaha keras untuk bersikap tenang, padahal dalam hatinya ia menjerit-jerit tak karuan. Jeanne berjalan menuju halte, meninggalkan Haruto.


Haruto tersenyum jahil, ia berjalan menyusul Jeanne lalu berdiri di depannya agar Jeanne menghentikan langkahnya.

"Lo harus tanggung jawab."

"Tanggung jawab apa??" Jeanne bingung.

"Gantiin jus jambu gue yang tadi," pinta Haruto.

"Apa sih, tadi di kantin pas gue mau gantiin katanya nggak usah?"

"Gue berubah pikiran, ayo!" Haruto menarik lengan Jeanne ke arah yang berlawanan.

"Eh, kemana?!”

"Ikut aja. Habis ini gue anterin lo pulang," katanya.


10 menit berjalan kaki, Haruto dan Jeanne sampai di kedai es krim yang tidak jauh dari sekolahnya. Tak perlu mengantri terlebih dahulu, Jeanne dan Haruto memilih varian es krim yang menarik perhatian mereka. Setelahnya, Jeanne mengeluarkan dompetnya dari dalam tas untuk membayar es krim tersebut. Namun, tangan Haruto yang mengeluarkan uang dari saku kemejanya bergerak lebih cepat.


“Kok jadi lo yang bayar?!” Protes Jeanne.

“Masa first date ceweknya yang bayar?” Haruto melirik Jeanne sekilas, lalu tersenyum.

Comments

  1. thorr 😭😭 aku harus ngeship siapa thor ??? ternyata jeanne ruto disini juga tetep lucu 😭😍

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

draft - #6 liburan

what if #1